IIQ Jakarta Jadi Rujukan Benchmarking SPMI bagi Enam Perguruan Tinggi Keagamaan Islam

TANGERANG SELATAN – Institut Ilmu Al-Qur’an (IIQ) Jakarta kembali menegaskan komitmennya sebagai salah satu rujukan dalam pengembangan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) di lingkungan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI). Komitmen tersebut diwujudkan melalui penyelenggaraan kegiatan Silaturrahim dan Benchmark SPMI yang diikuti oleh enam institusi pendidikan tinggi pada Kamis, 30 Juli 2026, bertempat di Aula IIQ Jakarta. Kegiatan ini menjadi forum strategis untuk memperkuat tata kelola perguruan tinggi, membangun budaya mutu, serta memperluas jejaring kerja sama antarlembaga dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi Islam.

Benchmarking ini tidak hanya menjadi ajang kunjungan kelembagaan, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi akademik untuk berbagi pengalaman (sharing knowledge), mendiskusikan berbagai tantangan implementasi SPMI, serta memperkenalkan praktik-praktik terbaik (best practices) yang telah diterapkan IIQ Jakarta dalam mengembangkan budaya mutu secara berkelanjutan. Melalui kegiatan ini, setiap institusi memperoleh kesempatan untuk berdialog secara langsung mengenai strategi pengelolaan mutu, penguatan tata kelola akademik, implementasi siklus PPEPP, pengembangan kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE), hingga digitalisasi sistem penjaminan mutu.

Kegiatan benchmarking diikuti oleh perwakilan dari enam institusi, yaitu:

  1. Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) IIQ Jakarta;
  2. Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IIQ Jakarta;
  3. Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) STIS Al-Manar Jakarta;
  4. Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) IAI Al-Jihad Shalahuddin Al-Ayyubi Jakarta;
  5. Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) STIT Riyadhussholihiin Banten; dan
  6. Lembaga Penjaminan Mutu (LPM) IAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Jakarta.

 

Hadir di Aula IIQ Jakarta secara langsung Ketua LPM STIS Al-Manar Jakarta, M. Agus Awalus Shoim, S.H., M.Ag., M.Phil. beserta Kaprodi Ahmad Turmudli, Lc.,M.A., selain itu hadiru pula Haryadi Utomo, S.T., M.MSI, sedangkan peserta lainnya turut hadir secara daring. Rombongan disambut oleh pimpinan IIQ Jakarta, Ketua LPM IIQ Jakarta beserta jajaran, Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IIQ Jakarta, Unit Penjaminan Mutu Fakultas (UPMF), dosen, unsur lembaga pendukung akademik, serta sivitas akademika yang mengikuti kegiatan secara luring maupun daring melalui platform Zoom.

Suasana diskusi berlangsung hangat dan interaktif sejak awal kegiatan. Masing-masing institusi menyampaikan pengalaman, capaian, sekaligus berbagai tantangan yang dihadapi dalam mengimplementasikan Sistem Penjaminan Mutu Internal. Forum ini menjadi wadah yang konstruktif untuk saling bertukar gagasan mengenai penyusunan dokumen mutu, pelaksanaan Audit Mutu Internal (AMI), pengelolaan instrumen evaluasi, pengembangan budaya mutu, hingga strategi meningkatkan keterlibatan seluruh sivitas akademika dalam siklus penjaminan mutu.

Dalam sambutannya, Ketua LPM IIQ Jakarta, Dr. Isman Iskandar, M.Si., menyampaikan apresiasi atas kehadiran seluruh peserta benchmarking. Menurutnya, kegiatan seperti ini memiliki nilai strategis karena memberikan kesempatan bagi perguruan tinggi untuk saling belajar, memperluas wawasan, serta membangun jejaring kolaborasi dalam pengembangan mutu pendidikan tinggi Islam. Ia menegaskan bahwa penjaminan mutu tidak hanya menjadi tanggung jawab LPM, melainkan merupakan tanggung jawab bersama seluruh unsur perguruan tinggi, mulai dari pimpinan, fakultas, program studi, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa.

Lebih lanjut, Dr. Isman menjelaskan bahwa keberhasilan implementasi SPMI ditentukan oleh konsistensi pelaksanaan siklus PPEPP yang tidak berhenti pada penyusunan dokumen atau pelaksanaan audit semata, tetapi harus menghasilkan peningkatan mutu yang nyata dan berkelanjutan. Menurutnya, budaya mutu akan terbentuk ketika seluruh proses penjaminan mutu menjadi bagian dari kebiasaan organisasi dan dilaksanakan secara sistematis dengan dukungan data serta bukti yang terdokumentasi dengan baik.

Sementara itu, Ketua LPM STIS Al-Manar Jakarta, M. Agus Awalus Shoim, menyampaikan bahwa IIQ Jakarta dipilih sebagai salah satu perguruan tinggi rujukan karena memiliki pengalaman dan rekam jejak yang baik dalam mengembangkan sistem penjaminan mutu berbasis nilai-nilai keislaman. Melalui benchmarking ini, pihaknya berharap memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai penyusunan dokumen mutu, implementasi PPEPP, penguatan kurikulum berbasis OBE, serta strategi membangun budaya mutu yang berkelanjutan di lingkungan perguruan tinggi.

Pada sesi utama, Dr. Syarif Hidayatullah, M.A. selaku Dekan Fakultas Syariah dan Ekonomi Islam IIQ Jakarta memaparkan pengalamannyya dalam  dalam membangun budaya mutu di fakultas yang terintegrasi hingga Prodi Syariah dan Ekonomi Islam  sukses mencapai akreditasi Unggul. Selanjutnya, Ketua LPM IIQ Jakarta menjelaskan secara komprehensif mengenai kebijakan mutu, manual mutu, standar mutu, formulir mutu, Audit Mutu Internal (AMI), monitoring dan evaluasi, hingga implementasi kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE). Pemaparan tersebut memberikan gambaran mengenai bagaimana sistem penjaminan mutu di IIQ Jakarta dibangun secara terstruktur dan terus dikembangkan melalui pendekatan perbaikan berkelanjutan (continuous quality improvement).

Sesi diskusi menjadi salah satu bagian yang paling dinamis dalam kegiatan ini. Berbagai pertanyaan disampaikan peserta, mulai dari langkah awal membangun sistem penjaminan mutu, strategi meningkatkan kesadaran sivitas akademika terhadap budaya mutu, mekanisme penyusunan dokumen mutu, hingga pengelolaan bukti implementasi dalam mendukung proses akreditasi. Diskusi berlangsung secara terbuka sehingga peserta dapat memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai implementasi SPMI berdasarkan pengalaman nyata IIQ Jakarta.

Melalui kegiatan benchmarking ini, seluruh peserta berharap terbangun sinergi yang semakin kuat antarlembaga dalam mengembangkan Sistem Penjaminan Mutu Internal yang efektif, adaptif, dan berkelanjutan. Pertemuan ini juga diharapkan menjadi awal dari kerja sama yang lebih luas dalam bidang penjaminan mutu, pengembangan akademik, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta penguatan tata kelola perguruan tinggi keagamaan Islam di Indonesia.